“Laskar Pelangi” menuju layar lebar

Jakarta – September mendatang film yang diadaptasi dari novel laris ‘Laskar Pelangi’ segera bisa dinikmati di bioskop. Tak hanya diputar di bioskop, film itu juga akan diputar di layar tancap.

Bagi kamu penggemar berat novelnya, buruan nonton…Jangan sampai ketinggalan ya…!!!

Published in: on Minggu, 31 Agustus 2008 at 6:41 pm  Comments (7)  

The URI to TrackBack this entry is: https://ngerumpi.wordpress.com/2008/08/31/laskar-pelangi-menuju-layar-lebar/trackback/

RSS feed for comments on this post.

7 KomentarTinggalkan komentar

  1. NOVEL Laskar Pelangi karya Andrea Hirata mencatat sukses luar biasa. Mungkin inilah novel paling fenomenal karya anak bangsa dalam sejarah sastra Indonesia. Sejak diterbitkan September 2005 oleh Bentang, novel itu sudah naik cetak hingga 17 kali dan terjual sekitar 200 ribu eksemplar.

    Sukses itu juga diikuti dua novel berikutnya yang menjadi bagian dari tetralogi Laskar Pelangi, yakni Sang Pemimpi dan Edensor. Satu novel lagi adalah Maryamah Karpov. Novel terakhir itu sudah selesai ditulis, tapi direncanakan baru terbit tahun depan.

    Jika digabungkan, oplah tiga novel tersebut hampir 500 ribu kopi. Itu baru di Indonesia saja. Sebab, Laskar Pelangi juga sudah dibeli oleh penerbit buku di Malaysia. Di negeri jiran buku itu langsung menjadi best seller.

    Setelah Malaysia, Singapura segera menyusul menerbitkan novel tersebut. Laskar Pelangi juga sudah dilirik sebuah penerbit dari Spanyol untuk diterbitkan di beberapa negara Eropa.

    Seiring dengan kesuksesan Laskar Pelangi, nama Andrea Hirata pun langsung melesat dalam jagat sastra Indonesia. Namanya menjadi perbincangan. Andrea pun makin sibuk memenuhi berbagai undangn talkshow, diskusi, bedah buku, maupun menerima penghargaan. Padahal, sebelumnya tidak banyak orang tahu, siapa itu Andrea Hirata. Orang Jepang? Laki-laki atau perempuan?

    Sepintas namanya memang mirip nama orang dari negara Matahari Terbit. Tapi, sejatinya dia asli Melayu, berasal dari Pulau Belitung (sekarang masuk Provinsi Bangka Belitung). Kampung halamannya (dia lebih suka menyebut Belitong) inilah yang menjadi setting novel Laskar Pelangi.

    Andrea Hirata lahir pada 24 Oktober di Belitung. Sayang, dia merahasiakan tahun kelahirannya. “Tahunnya confidential (rahasia),” katanya kepada Radar Jogja (Grup Jawa Pos) di Kedai Kebun, Jogja.

    Andrea yang memakai baju hitam bergaris-garis putih tipis hari itu (8/12) berada di Jogja. Dia menjadi pembicara dalam diskusi Perempuan dan Sastra di Pusat Studi Wanita (PSW) UGM.

    Perjalanan karir dan proses kepengarangan Andrea agak unik. Setelah lulus SMA pada 1992, Andrea memutuskan keluar dari Belitung. Dia naik kapal laut menuju Jakarta. Dari ibu kota, dia malah terdampar di Bogor. Di kota hujan Andrea menjadi tukang sortir surat di kantor pos setempat. “Waktu itu namanya tenaga lepas harian atau TLH,” kenangnya.

    Pada 1993, berbekal uang hasil menabung selama menjadi TLH, Andrea mengikuti ujian masuk perguruan tinggi (UMPTN). Dia memilih Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Indonesia (UI). Ternyata Andrea diterima. Bahkan, dia bisa menyelesaikan masa studi hanya dalam 3,5 tahun. Andrea pun lulus dengan menyandang predikat cum laude. “Kalau urusan sekolah, saya memang serius karena dari dulu saya senang belajar,” katanya.

    Lulus dari FE UI, Andrea mendapat beasiswa Uni Eropa untuk studi master of science di Université de Paris, Sorbonne, Prancis dan Sheffield Hallam University, Inggris. Tesis Andrea di bidang telekomunikasi ekonomi mendapat penghargaan dari dua universitas tersebut dan kembali lulus cum laude.

    “Sebenarnya ada tawaran lagi untuk mengambil S-3. Tapi, saya tolak. Ketinggian. Saya khawatir nanti tidak bisa memberikan kontribusi yang sepadan. S-2 saja sudah cukup tinggi,” katanya. Karena itu, begitu S-2-nya selesai, Andrea memilih kembali ke tanah air dan bekerja di PT Telkom. Sebelum di Bandung, dia sempat berdinas di PT Telkom Surabaya selama dua tahun.

    Menjadi penulis sama sekali bukan cita-citanya. Jangankan menulis, membaca karya-karya sastra saja, Andrea hampir tidak pernah. Dia lebih menyukai buku-buku sains dan teknologi. “Baru satu karya sastra yang saya baca,” katanya. Karena itu, dia menolak dianggap sebagai sastrawan atau penulis.

    Laskar Pelangi sebetulnya juga bukan dimaksudkan untuk ditulis menjadi sebuah novel. Itu sebuah memoar masa kecil Andrea ketika masih bersekolah di sebuah SD di Belitung. Buku itu dia tulis untuk gurunya: Ibu Muslimah Hafsari.

    Satu ketika, kenang dia, Andrea dan teman-teman sekelas menunggu Bu Muslimah di depan kelas. Waktu itu hujan sangat deras. Mereka menunggu-nunggu dengan rasa cemas, takut sang guru idola tidak datang. “Tiba-tiba dari sudut lapangan sekolah muncul beliau berjalan kaki sambil berpayungkan daun pisang. Kami semua gembira melihat kedatangan beliau. Dan, saat itu, dalam hati saya berjanji bahwa saya harus menulis tentang beliau,” cerita Andrea.

    Sebagai karyawan PT Telkom yang sibuk, Andrea tak kunjung menulis cerita untuk Bu Mus. Sampai suatu saat ketika baru pulang menjadi relawan di Aceh, Andrea dikabari teman-temannya di Belitung bahwa Bu Mus sakit keras. “Katanya sudah parah banget,” tutur Andrea.

    Mendengar kabar tersebut, Andrea ingat dengan janjinya beberapa tahun lalu. Gejolak untuk memberikan penghargaan kepada gurunya pun kembali meruap. Andrea akhirnya bersicepat menulis, berpacu dengan waktu karena takut terjadi apa-apa dengan Bu Mus. Dalam waktu tiga bulan, tulisan itu selesai. Tulisan itu kemudian diperbanyak untuk dibagi-bagikan sesuai jumlah teman dan gurunya di Belitung. “Lalu saya jilid dan saya juga kasih cover sendiri,” tambah Andrea.

    Mengapa cerita itu sampai menjadi novel yang sukses, menurut Andrea, bukan suatu kesengajaan. Bermula ketika laptop Andrea tertinggal di kamarnya. Andrea meminta salah seorang teman di Telkom mengambilkannya. Saat mengambil laptop, teman itu melihat naskah Laskar Pelangi di dalam kamar Andrea, Setelah membaca naskah tersebut, teman Andrea terkesima dengan cerita di dalamnya. Diam-diam dia mengirimkan naskah itu ke penerbit tanpa setahu Andrea.

    Hingga, suatu hari, Andrea ditelepon pimpinan penerbit Bentang Gangsar Sukrisno yang memuji naskah Laskar Pelangi dan berniat menerbitkannya. “Naskah ini luar biasa. Tapi, Anda siapa?” kata Andrea menirukan pertanyaan Sukrisno.

    Andrea memahami pertanyaan tersebut. Sebab, di dunia sastra dia bukan siapa-siapa. “Bagaimana mungkin saya dikenal, menulis sepotong cerpen pun tidak pernah,” ujar Andrea yang punya minat besar pada antropologi.

    Singkat cerita, setelah dia meminta pertimbangan kepada teman-temannya di Belitung dan juga ibunya, Andrea mengizinkan Laskar Pelangi diterbitkan. Dan di luar dugaannya, novel itu sukses luar biasa. Tanggapan dan pujian dari para pembaca buku terus mengalir.

    Laskar Pelangi adalah memoar masa kecil Andrea Hirata. Berkisah tentang 10 anak SD Muhammadiyah Belitung yang kemudian dijuluki Laskar Pelangi dalam memperoleh pendidikan. Guru mereka, Bu Muslimah, yang sangat dihormati oleh Andrea sangat perhatian kepada murid-muridnya.

    Jadi, peristiwa yang ditulis di novel tersebut adalah faktual, benar-benar ada, meski peristiwanya terjadi puluhan tahun lalu. Andrea menceritakannya dengan begitu detail.

    “Bagi anak kecil, peristiwa yang traumatis akan sangat membekas sampai kapan pun,” katanya.

    Beberapa pembaca mengaku sangat terinspirasi dengan novel ini. Terutama oleh sosok Bu Guru Muslimah. Seorang perempuan aktivis Aisyiyah dalam diskusi di PSW mengaku sangat terinspirasi oleh Bu Muslimah. Sampai-sampai ketika memberikan pelatihan kepada guru-guru di desa, dia menggunakan novel Laskar Pelangi sebagai referensi untuk menggugah semangat para guru di sana.

    Karena banyak pembaca yang menanyakan kelanjutan kisah tokoh-tokoh dalam Laskar Pelangi, Andrea lalu membuat novel kedua Sang Pemimpi dan ketiga Edensor dari empat novel yang dia rencanakan. Sambutan terhadap dua novel itu juga luar biasa.

    Edensor bahkan masuk dalam nominasi lima besar karya sastra terbaik Katulistiwa Literaly Award (KLA) 2007. Andrea tidak menyangka novelnya bakal masuk nominasi. “Bagi saya, masuk 10 besar saja sudah merasa menang. Eh, sekarang malah lima besar,” katanya.

    Andrea memang bangga Edensor masuk nominasi KLA. Apalagi, saingannya adalah para penulis yang memang sudah lama bergelut di dunia sastra. Misalnya, Gus TF Sakai, Seno Gumira Ajidarma, dan Cok Savitri. “Dibanding mereka saya belum ada apa-apanya,” ujar Andrea merendah.

    Sukses Laskar Pelangi ternyata menarik minat produser film untuk mengangkatnya ke layar lebar. Dari beberapa produser yang meminangnya, Andre memilih Mira Lesmana dan Riri Reza sebagai sutradara film Laskar Pelangi.

    Andrea menyadari, banyak pembaca novelnya yang tidak setuju Laskar Pelangi diangkat ke layar lebar. Sebab, ada kekhawatiran, filmnya tidak akan seperti di buku. Bahkan, kata Andrea, dalam sebuah diskusi di Bandung, sang moderator mengajukan pertanyaan kepada audien, siapa yang tak setuju Laskar Pelangi difilmkan. “Hampir semua mengangkat tangan,” tuturnya.

    Andrea bisa memahami kekhawatiran tersebut. Meski bakal banyak mendapat tentangan dari para pembaca novelnya, Andrea bergeming dengan keputusannya.

    “Saya ingin dapat touch dari sineas yang punya perspektif lain terhadap Laskar Pelangi. Sebab, ini kisah tentang semangat manusia. Dan, itu harus terpajang jelas dalam film,” katanya.
    NOVEL Laskar Pelangi karya Andrea Hirata mencatat sukses luar biasa. Mungkin inilah novel paling fenomenal karya anak bangsa dalam sejarah sastra Indonesia. Sejak diterbitkan September 2005 oleh Bentang, novel itu sudah naik cetak hingga 17 kali dan terjual sekitar 200 ribu eksemplar.

    Sukses itu juga diikuti dua novel berikutnya yang menjadi bagian dari tetralogi Laskar Pelangi, yakni Sang Pemimpi dan Edensor. Satu novel lagi adalah Maryamah Karpov. Novel terakhir itu sudah selesai ditulis, tapi direncanakan baru terbit tahun depan.

    Jika digabungkan, oplah tiga novel tersebut hampir 500 ribu kopi. Itu baru di Indonesia saja. Sebab, Laskar Pelangi juga sudah dibeli oleh penerbit buku di Malaysia. Di negeri jiran buku itu langsung menjadi best seller.

    Setelah Malaysia, Singapura segera menyusul menerbitkan novel tersebut. Laskar Pelangi juga sudah dilirik sebuah penerbit dari Spanyol untuk diterbitkan di beberapa negara Eropa.

    Seiring dengan kesuksesan Laskar Pelangi, nama Andrea Hirata pun langsung melesat dalam jagat sastra Indonesia. Namanya menjadi perbincangan. Andrea pun makin sibuk memenuhi berbagai undangn talkshow, diskusi, bedah buku, maupun menerima penghargaan. Padahal, sebelumnya tidak banyak orang tahu, siapa itu Andrea Hirata. Orang Jepang? Laki-laki atau perempuan?

    Sepintas namanya memang mirip nama orang dari negara Matahari Terbit. Tapi, sejatinya dia asli Melayu, berasal dari Pulau Belitung (sekarang masuk Provinsi Bangka Belitung). Kampung halamannya (dia lebih suka menyebut Belitong) inilah yang menjadi setting novel Laskar Pelangi.

    Andrea Hirata lahir pada 24 Oktober di Belitung. Sayang, dia merahasiakan tahun kelahirannya. “Tahunnya confidential (rahasia),” katanya kepada Radar Jogja (Grup Jawa Pos) di Kedai Kebun, Jogja.

    Andrea yang memakai baju hitam bergaris-garis putih tipis hari itu (8/12) berada di Jogja. Dia menjadi pembicara dalam diskusi Perempuan dan Sastra di Pusat Studi Wanita (PSW) UGM.

    Perjalanan karir dan proses kepengarangan Andrea agak unik. Setelah lulus SMA pada 1992, Andrea memutuskan keluar dari Belitung. Dia naik kapal laut menuju Jakarta. Dari ibu kota, dia malah terdampar di Bogor. Di kota hujan Andrea menjadi tukang sortir surat di kantor pos setempat. “Waktu itu namanya tenaga lepas harian atau TLH,” kenangnya.

    Pada 1993, berbekal uang hasil menabung selama menjadi TLH, Andrea mengikuti ujian masuk perguruan tinggi (UMPTN). Dia memilih Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Indonesia (UI). Ternyata Andrea diterima. Bahkan, dia bisa menyelesaikan masa studi hanya dalam 3,5 tahun. Andrea pun lulus dengan menyandang predikat cum laude. “Kalau urusan sekolah, saya memang serius karena dari dulu saya senang belajar,” katanya.

    Lulus dari FE UI, Andrea mendapat beasiswa Uni Eropa untuk studi master of science di Université de Paris, Sorbonne, Prancis dan Sheffield Hallam University, Inggris. Tesis Andrea di bidang telekomunikasi ekonomi mendapat penghargaan dari dua universitas tersebut dan kembali lulus cum laude.

    “Sebenarnya ada tawaran lagi untuk mengambil S-3. Tapi, saya tolak. Ketinggian. Saya khawatir nanti tidak bisa memberikan kontribusi yang sepadan. S-2 saja sudah cukup tinggi,” katanya. Karena itu, begitu S-2-nya selesai, Andrea memilih kembali ke tanah air dan bekerja di PT Telkom. Sebelum di Bandung, dia sempat berdinas di PT Telkom Surabaya selama dua tahun.

    Menjadi penulis sama sekali bukan cita-citanya. Jangankan menulis, membaca karya-karya sastra saja, Andrea hampir tidak pernah. Dia lebih menyukai buku-buku sains dan teknologi. “Baru satu karya sastra yang saya baca,” katanya. Karena itu, dia menolak dianggap sebagai sastrawan atau penulis.

    Laskar Pelangi sebetulnya juga bukan dimaksudkan untuk ditulis menjadi sebuah novel. Itu sebuah memoar masa kecil Andrea ketika masih bersekolah di sebuah SD di Belitung. Buku itu dia tulis untuk gurunya: Ibu Muslimah Hafsari.

    Satu ketika, kenang dia, Andrea dan teman-teman sekelas menunggu Bu Muslimah di depan kelas. Waktu itu hujan sangat deras. Mereka menunggu-nunggu dengan rasa cemas, takut sang guru idola tidak datang. “Tiba-tiba dari sudut lapangan sekolah muncul beliau berjalan kaki sambil berpayungkan daun pisang. Kami semua gembira melihat kedatangan beliau. Dan, saat itu, dalam hati saya berjanji bahwa saya harus menulis tentang beliau,” cerita Andrea.

    Sebagai karyawan PT Telkom yang sibuk, Andrea tak kunjung menulis cerita untuk Bu Mus. Sampai suatu saat ketika baru pulang menjadi relawan di Aceh, Andrea dikabari teman-temannya di Belitung bahwa Bu Mus sakit keras. “Katanya sudah parah banget,” tutur Andrea.

    Mendengar kabar tersebut, Andrea ingat dengan janjinya beberapa tahun lalu. Gejolak untuk memberikan penghargaan kepada gurunya pun kembali meruap. Andrea akhirnya bersicepat menulis, berpacu dengan waktu karena takut terjadi apa-apa dengan Bu Mus. Dalam waktu tiga bulan, tulisan itu selesai. Tulisan itu kemudian diperbanyak untuk dibagi-bagikan sesuai jumlah teman dan gurunya di Belitung. “Lalu saya jilid dan saya juga kasih cover sendiri,” tambah Andrea.

    Mengapa cerita itu sampai menjadi novel yang sukses, menurut Andrea, bukan suatu kesengajaan. Bermula ketika laptop Andrea tertinggal di kamarnya. Andrea meminta salah seorang teman di Telkom mengambilkannya. Saat mengambil laptop, teman itu melihat naskah Laskar Pelangi di dalam kamar Andrea, Setelah membaca naskah tersebut, teman Andrea terkesima dengan cerita di dalamnya. Diam-diam dia mengirimkan naskah itu ke penerbit tanpa setahu Andrea.

    Hingga, suatu hari, Andrea ditelepon pimpinan penerbit Bentang Gangsar Sukrisno yang memuji naskah Laskar Pelangi dan berniat menerbitkannya. “Naskah ini luar biasa. Tapi, Anda siapa?” kata Andrea menirukan pertanyaan Sukrisno.

    Andrea memahami pertanyaan tersebut. Sebab, di dunia sastra dia bukan siapa-siapa. “Bagaimana mungkin saya dikenal, menulis sepotong cerpen pun tidak pernah,” ujar Andrea yang punya minat besar pada antropologi.

    Singkat cerita, setelah dia meminta pertimbangan kepada teman-temannya di Belitung dan juga ibunya, Andrea mengizinkan Laskar Pelangi diterbitkan. Dan di luar dugaannya, novel itu sukses luar biasa. Tanggapan dan pujian dari para pembaca buku terus mengalir.

    Laskar Pelangi adalah memoar masa kecil Andrea Hirata. Berkisah tentang 10 anak SD Muhammadiyah Belitung yang kemudian dijuluki Laskar Pelangi dalam memperoleh pendidikan. Guru mereka, Bu Muslimah, yang sangat dihormati oleh Andrea sangat perhatian kepada murid-muridnya.

    Jadi, peristiwa yang ditulis di novel tersebut adalah faktual, benar-benar ada, meski peristiwanya terjadi puluhan tahun lalu. Andrea menceritakannya dengan begitu detail.

    “Bagi anak kecil, peristiwa yang traumatis akan sangat membekas sampai kapan pun,” katanya.

    Beberapa pembaca mengaku sangat terinspirasi dengan novel ini. Terutama oleh sosok Bu Guru Muslimah. Seorang perempuan aktivis Aisyiyah dalam diskusi di PSW mengaku sangat terinspirasi oleh Bu Muslimah. Sampai-sampai ketika memberikan pelatihan kepada guru-guru di desa, dia menggunakan novel Laskar Pelangi sebagai referensi untuk menggugah semangat para guru di sana.

    Karena banyak pembaca yang menanyakan kelanjutan kisah tokoh-tokoh dalam Laskar Pelangi, Andrea lalu membuat novel kedua Sang Pemimpi dan ketiga Edensor dari empat novel yang dia rencanakan. Sambutan terhadap dua novel itu juga luar biasa.

    Edensor bahkan masuk dalam nominasi lima besar karya sastra terbaik Katulistiwa Literaly Award (KLA) 2007. Andrea tidak menyangka novelnya bakal masuk nominasi. “Bagi saya, masuk 10 besar saja sudah merasa menang. Eh, sekarang malah lima besar,” katanya.

    Andrea memang bangga Edensor masuk nominasi KLA. Apalagi, saingannya adalah para penulis yang memang sudah lama bergelut di dunia sastra. Misalnya, Gus TF Sakai, Seno Gumira Ajidarma, dan Cok Savitri. “Dibanding mereka saya belum ada apa-apanya,” ujar Andrea merendah.

    Sukses Laskar Pelangi ternyata menarik minat produser film untuk mengangkatnya ke layar lebar. Dari beberapa produser yang meminangnya, Andre memilih Mira Lesmana dan Riri Reza sebagai sutradara film Laskar Pelangi.

    Andrea menyadari, banyak pembaca novelnya yang tidak setuju Laskar Pelangi diangkat ke layar lebar. Sebab, ada kekhawatiran, filmnya tidak akan seperti di buku. Bahkan, kata Andrea, dalam sebuah diskusi di Bandung, sang moderator mengajukan pertanyaan kepada audien, siapa yang tak setuju Laskar Pelangi difilmkan. “Hampir semua mengangkat tangan,” tuturnya.

    Andrea bisa memahami kekhawatiran tersebut. Meski bakal banyak mendapat tentangan dari para pembaca novelnya, Andrea bergeming dengan keputusannya.

    “Saya ingin dapat touch dari sineas yang punya perspektif lain terhadap Laskar Pelangi. Sebab, ini kisah tentang semangat manusia. Dan, itu harus terpajang jelas dalam film,” katanya.

    • heh gw ngefens sm nidji, apa kabar loe skrng…?
      gw pingin bgt nnton, tp ga bsa msk terus…

    • mantap banget emang…
      gw suka bnget film’a
      gw aja ampe bela-belain ke jakarta dari tegal cuma buat nonton film LASKAR PELANGI doang…
      soalnya di tegal ga ada bioskop coz..
      pokoknya LASKAR PELANGI TOP ABIZ

  2. t0p. . . .top. . . . . .top. . . . . . . .
    “LASKAR PELANGI” is the best , , ,
    gwe ska bgt ma tw n0vel+filmnya , ,bda dr pd yg lae. . . pa lg gwe ska bgt ma NIDJI, , ,wow. . Tmbh ask gk tw. . . sukses bwt Laskar Pelangi. . . . n bwt Nidji gw ngefans bgt ma loe. . .

  3. keren banget novel nya baru kali ini yang paling keren sama sekaliyaaaaaaaaaaaa

    kalau bisa buat lagi ya novel yang bagusssssssssss sekaliiiiii okeeeeeeee

    tertanda irwan dharmawan

  4. LASKAR PELANGI..
    mank mantap banget tuh…
    gw suka bnget ma tuh film..
    gw ampe bela-belain ke jakarta cuma buat nonton laskar pelangi doang..
    soalnya di tegal ga ada bioskop coz..
    i like LASKAR PELANGI

  5. Jujur mengatakan yang saya tidak suka menonton drama Indonesia. Bila cerita yang mengarut, fantasi keterlaluan, kisah anak kecil yg berhati busuk hingga sanggup merangcang membunuh. Lalu citer indon dilarang dirumah saya. kecuali cerita Jalan taqwa. secara tak sengaja saya tertengok cerita laskar pelangi. mungkin kerana bahasanya mirip bahasa Malaysia, lalu saya terus menonton. air mata terus mengalir tiada hentinya. Lalu membakar semangat saya untuk terus menjadi guru yang tulus mencurah ilmu utk anak bangsa. Jika tidak keberatan, bagaimanakah boleh saya mendapatkan buku ini? t kasih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: