EPL jadi liga termahal musim ini

TRANSFER Robinho ke Manchester City dan Dimitar Berbatov ke Manchester United (MU) benar-benar

Robinho

Robinho

sensasional. Deal yang terjadi pada detik-detik penutupan bursa transfer tersebut menjadi dua besar transfer termahal di Eropa, bahkan dunia, musim ini. Tidak hanya itu, nilai pembelian dua pemain tersebut sekaligus mendongkrak rekor transfer yang dicatat klub Premier League sepanjang sejarah.

Sebagaimana dikutip dari badan survei Deloitte, klub Premier League musim panas ini mencatat transaksi transfer hingga 500 juta pounds atau sekitar Rp 8,3 triliun. Jumlah tersebut naik 30 juta pounds dari transaksi tahun lalu dan itu terbantu berkat transfer injury time Robinho dan Berbatov.

”Nominal itu sangat jauh dibandingkan pengeluaran klub di liga lain di dunia,” kata Paul Rawnsey, direktur bagian bisnis olahraga Deloitte, sebagaimana dilansir Reuters.

Dengan kata lain, Premier League masih menjadi liga termahal sejagat. Tak sekadar mahal, dari sisi prestasi,

Dimitar Berbatov, pembelian terakhir Manchester United musim ini

Dimitar Berbatov, pembelian terakhir MU

Premier League termasuk sukses dengan prestasi di kompetisi terbaik antarklub Eropa, Liga Champions. Musim lalu, United menjadi yang terbaik dan lolosnya empat klub Premier League di perempat final menjadi sejarah tersendiri.

”Efek lainnya dari rekor transfer ini tentu saja dari sisi ekonomi dan pajak yang menguntungkan pemerintah Inggris,” kata Rawnsey.

Selain City dan United yang memecahkan transfer di klub masing-masing, Everton mencetak rekor serupa di detik-detik terakhir bursa transfer kemarin. Banderol 15 juta pounds (kurang lebih Rp 250 miliar) untuk gelandang Standard Liege (Belgia) Marouane Felliani menjadi rekor transfer klub berjuluk The Toffees itu.

Kisah Pavlyuchenko, Si Tukang Mabuk

Roman Pavlyuchenko

Roman Pavlyuchenko

London – Roman Pavlyuchenko sudah berlabuh di White Hart Lane. Pavlyuchenko, yang dibeli Spurs dari Spartak Moskow senilai 14 juta poundsterling, pada awalnya boleh jadi akan sering dibanding-bandingkan dengan Berbatov, yang meraih sukses selama dua musim membela klub London utara tersebut.

Selain mengisi tempat yang ditinggalkan bintang Bulgaria itu, bahkan Pavlyuchenko diberi nomor punggung yang sebelumnya dipakai Berbatov, yakni #9. Tapi ia sendiri tak memedulikan pemain yang telah hengkang ke Manchester United itu.

“Aku tak bisa ngomong apa-apa tentang kepergian Berbatov,” ujarnya kepada The Sun. “Biarkan semuanya pergi, maka aku akan bermain. Ini bagus buatku.”

Popularitas Pavlyuchenko mendunia ketika ia tampil gemilang di Euro 2008. Seiring performa sensasional Rusia yang menembus babak semifinal, ia mengukir tiga gol, hanya kalah satu dari top skorerDavid Villa (Spanyol). Namanya pun masuk ke dalam daftar 23 pemain team of the tournament.

Itulah momen penting Pavlyuchenko buat melanjutkan karirnya, karir yang pernah menjadi spekulasi buat pria berusia 27 tahun itu. Ia pernah mengatakan, kalau tidak berhasil sebagai pemain bola, barangkali ia saat ini akan bekerja sebagai sopir truk (lorry).

Pavlyuchenko juga pernah memiliki kebiasaan buruk yang tentu saja fans Spurs tidak ingin kebiasaan itu muncul lagi. Apa? Terlalu banyak minum alkohol alias mabuk-mabukan.

“Pernah setelah main melawan Slovan, aku minum kelewat banyak karena kalah, sampai-sampai pemain-pemain lain mencariku,” kenangnya.

“Yang paling buruk adalah di malam perkawinanku. Aku terlalu mabuk dan hampir terjatuh dari balkon hotel. Waktu anak perempuanku lahir juga begitu.”

Pemain yang pernah dicekal empat pertandingan karena memukul seorang pemain lawan dua tahun lalu itu juga mengatakan bahwa keputusannya menerima pinangan Spurs berkat peran istrinya.

“Aku sempat tak bisa memutuskan. Aku selalu bilang pada orang-orang, ‘aku takkan pergi ke Inggris’. Pada akhirnya Inggris memang terlalu menggoda. Aku bicara pada istriku, Larisa, dan dia mendukung.”

“Aku memutuskan pindah bukan karena Tottenham menawariku uang lebih banyak. Yang bisa menghentikanku hanyalah keluarga. Aku tahu fans Spartak tidak senang, tapi aku yakin ini demi kebaikan karirku.”